Jumat, 16 Agustus 2013

PENGORBANAN SEORANG IBU


PENGORBANAN SEORANG IBU 



Buku Harian Mana Surgawi ( Oleh Pnt. Sriyanto )
Rabu, 07 Agustus 2013

1 Timotius 5:4; Amsal 23:22
S
eseorang berkisah tentang ibunya.
Aku lahir di dalam keluarga miskin yang seringkali kekurangan makanan. Ibu mengetahui bahwa aku belum kenyang, sehingga ia memindahkan nasinya kepiringku sembari berkata, “Ini untukmu Nak, Ibu tidak lapar.” Padahal aku tahu persis bahwa ibu belum makan, ibu pasti lapar.
Agar aku mendapatkan makanan bergizi, ibu sering pergi memancing, ia memasak sup ikan yang lezat dan memberikannya kepadaku. Aku memakannya dengan lahap, tetapi aku memperhatikan bahwa ibu mengambil tulang ikan bekas aku makan dan mulai memakan daging ikan yang masih tersisa di tulang tersebut. Aku sedih melihat ibu. Kemudian dengan sumpitku aku memberikan daging ikan kepadanya, tetapi ia berkata, “Buat kamu saja Nak, Ibu tidak suka ikan.” Ibu berkata begitu meskipun aku tau bahwa ibu suka ikan.
Ketika aku masuk SMP, biaya yang kuperlukan semakin banyak. Untuk mendapatkan uang tambahan, ibu bekerja menempel kotak korek api. Walau sudah larut malam, aku masih melihat ibu menempel kotak korek api dengan penerangan lilin yang kecil. “Ibu tidak ngantuk?” tanyaku. “Tidurlah Nak, Ibu belum ngantuk,” jawabnya. Padahal aku melihat matanya sudah hamper terpejam karena ngantuk. 
Ketika aku menjalani ujian, ibu cuti dari pekerjaan utuk menemaniku pergi ujian. Walau terik matahari terasa menyengat, ibu tetap menungguku di luar. Selesai ujian, ibu memberiku teh manis. Karena aku melihat ibu kepanasan dan pasti haus, maka aku memberikan gelas berisi teh kepada ibu, tetapi ia berkata, “Minumlah Nak, Ibu tidak haus.”
Singkat cerita, setelah lulus S1, aku melanjutkan ke S2 dan bekerja di sebuah perusahaan di Amerika. Gajiku cukup besar, sehingga aku bermaksud mengajak ibu untuk tinggal bersamaku dan menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu berkata, “Aku tidak terbiasa hidup disana.” Aku tahu ibu berkata begitu karena tidak mau merepotkanku.
Di usianya yang sudah tua, ibu terkena kanker lambung dan penyakit itu membuatnya tersiksa. Aku pulang dan melihat ibu terbaring lemah menahan sakit, ia memandangku dengan tatapan rindu. Aku menangis melihat penderitaan ibu, tapi ia berkata, “Jangan menangis Nak, Ibu tidak merasa sakit.”  Itu adalah ucapan terakhir ibu sebelum ia menutup matanya dan kembali ke pangkuan Bapa di Surga.
Kisah di atas adalah gambaran kasih dan pengorbanan seorang ibu. Sebagai anak, ksihi, hormati, dan balaslah budi baik ibu kita, karena ini adalah kehendak Tuhan. Renungkanlah sejenak apa yang sudah Anda lakukan bagi ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan Kita. Jika saat ini Kita sedang mengalami keretakan hubungan dengan ibu, perbaiki hungan tersebut sehingga berkat2 Tuhan tidak terhambat.

DOA
Bapa, berkatilah ibuku yang sudah banyak berkorban bagiku. Berikanlah dia kesehatan dan sukacita senantiasa. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku mohon. Amin.

Kata2 bijak
Kasih ibu bagaikan matahari yang terus bersinar tanpa mengharapkan balasan.

Mutiara Kata
Orang bisa hidup tanpa Ibu dan Ayah, tetapi tidakk mungkin hidup tanpa Tuhan Allah Bapa.
Anonym

Tidak ada komentar:

Posting Komentar