1 Timotius
5:4; Amsal 23:22
S
|
eseorang
berkisah tentang ibunya.
Aku lahir di
dalam keluarga miskin yang seringkali kekurangan makanan. Ibu mengetahui bahwa
aku belum kenyang, sehingga ia memindahkan nasinya kepiringku sembari berkata, “Ini untukmu Nak, Ibu tidak lapar.” Padahal
aku tahu persis bahwa ibu belum makan, ibu pasti lapar.
Agar aku mendapatkan makanan bergizi, ibu sering pergi
memancing, ia memasak sup ikan yang lezat dan memberikannya kepadaku. Aku
memakannya dengan lahap, tetapi aku memperhatikan bahwa ibu mengambil tulang
ikan bekas aku makan dan mulai memakan daging ikan yang masih tersisa di tulang
tersebut. Aku sedih melihat ibu. Kemudian dengan sumpitku aku memberikan daging
ikan kepadanya, tetapi ia berkata, “Buat
kamu saja Nak, Ibu tidak suka ikan.” Ibu berkata begitu meskipun aku tau
bahwa ibu suka ikan.
Ketika aku masuk SMP, biaya yang kuperlukan semakin banyak.
Untuk mendapatkan uang tambahan, ibu bekerja menempel kotak korek api. Walau
sudah larut malam, aku masih melihat ibu menempel kotak korek api dengan
penerangan lilin yang kecil. “Ibu tidak
ngantuk?” tanyaku. “Tidurlah Nak, Ibu
belum ngantuk,” jawabnya. Padahal aku melihat matanya sudah hamper terpejam
karena ngantuk.
Ketika aku menjalani ujian, ibu cuti dari pekerjaan utuk
menemaniku pergi ujian. Walau terik matahari terasa menyengat, ibu tetap
menungguku di luar. Selesai ujian, ibu memberiku teh manis. Karena aku melihat
ibu kepanasan dan pasti haus, maka aku memberikan gelas berisi teh kepada ibu,
tetapi ia berkata, “Minumlah Nak, Ibu
tidak haus.”
Singkat cerita, setelah lulus S1, aku melanjutkan ke S2 dan
bekerja di sebuah perusahaan di Amerika. Gajiku cukup besar, sehingga aku
bermaksud mengajak ibu untuk tinggal bersamaku dan menikmati hidup di Amerika.
Tetapi ibu berkata, “Aku tidak terbiasa
hidup disana.” Aku tahu ibu berkata begitu karena tidak mau merepotkanku.
Di usianya yang sudah tua, ibu terkena kanker lambung dan
penyakit itu membuatnya tersiksa. Aku pulang dan melihat ibu terbaring lemah
menahan sakit, ia memandangku dengan tatapan rindu. Aku menangis melihat
penderitaan ibu, tapi ia berkata, “Jangan
menangis Nak, Ibu tidak merasa sakit.” Itu adalah ucapan terakhir ibu sebelum ia
menutup matanya dan kembali ke pangkuan Bapa di Surga.
Kisah di atas adalah gambaran kasih dan pengorbanan seorang ibu.
Sebagai anak, ksihi, hormati, dan balaslah budi baik ibu kita, karena ini
adalah kehendak Tuhan. Renungkanlah sejenak apa yang sudah Anda lakukan bagi
ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan Kita. Jika saat ini Kita sedang
mengalami keretakan hubungan dengan ibu, perbaiki hungan tersebut sehingga
berkat2 Tuhan tidak terhambat.
DOA
Bapa,
berkatilah ibuku yang sudah banyak berkorban bagiku. Berikanlah dia kesehatan
dan sukacita senantiasa. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku mohon. Amin.
Kata2 bijak
Kasih ibu bagaikan matahari yang terus bersinar
tanpa mengharapkan balasan.
Mutiara Kata
Orang bisa hidup tanpa Ibu dan Ayah, tetapi
tidakk mungkin hidup tanpa Tuhan Allah Bapa.
Anonym
